Hari Sabtu tanggal 22 Agustus saya pergokin dua pegawai Dewata Oleh-oleh di Kesiman Kertalangu bakar sampah plastik. Saat bangun renovasi Dewata Oleh-oleh buruh juga bakar sampah puing-puing bangunan kecampur plastik dan sudah dilaporkan ke kadus setempat. Namun sekarang pegawainya masih saja bakar padahal mesti tahu itu salah. Ironis sekali bisnis yang jual oleh-oleh ke tamu domestik dan mancanegara tidak bisa mengedukasi pegawai ataupun kontraktornya. Kegiatan ini sangat mengganggu kesehatan warga di permukiman apalagi yang punya anak kecil atau anggota keluarga yang kena asma, ispa dsb.
Kami juga memperhatikan bahwa tamu-tamu domestik dari bis-bis Bali-Jawa sering nyampah di sekitar Dewata Oleh-oleh - mesti pihak travel dan juga bisnis oleh-oleh itu bisa mengedukasi tamunya supaya buang sampah di tong sampah atau membawa pulang sampahnya (kalau di Jepang bisa, kenapa kita di Indonesia tidak?!).
Apakah bisnis yang besar seperti ini tidak memilah sampah dan berlanggan sampah?