Pengaduan

user image

04/09/2026, 21:41:23 Jogging Track Desa Budaya Kertalangu Penuh Sampah dan Titik Pembakaran

Belakang ini saya mau menangis melihat kondisi Jogging Track Desa Budaya Kertalangu. Sawah dan lahan pertanian terakhir di Denpasar ini sudah sangat tercemar dan tidak terlihat terawat bahkan bisa dikatakan tidak sehat untuk berolahraga ataupun dikunjungi. Menurut saya perlu ditutup dulu dan direstorasi total sampai kembali pulih baru dibuka untuk umum lagi.

Di seluruh pinggir jogging track sampah plastik berserakan di selokan, para petani sangat rajin membakar lahannya dan tanah ini semua sangat sudah tercemar parah dengan mikro- dan nano-plastik sampai tidak layak ditanam apapun sementara. Sudah puluhan kali LSM, desa dan mahasiswa melakukan aksi bersih-bersih disini namun jika tidak dirawat secara konsisten dengan pengawasan dan sangsi yang tegas akan makin hari makin hancur dan susah dipulihkan.

Perlu diingat bahwa sawah dan lahan produktif seperti ini merupakan rantai makanan binatang dan manusia. Jika tercemar dengan mikroplastik dan nanoplastik ((dari pembakaran sampah dan lahan) semua kan kena dampaknya termasuk keturunan kita.

Lokasi yang langka ini mesti dijadikan mutiara di Desa Kesiman Kertalangu dan semua stakeholdernya (petani, dagang-dagang, pemilik Tebu Majalangu, tukang karcis, pemilik tanah dan juga para pengunjung mesti merawatnya dengan hati-hati dan penuh kesadaran. Justru seolah-olah sedikit sekali orang yang sadar ataupun peduli. Lama-lama Kota Denpasar tidak punya tanah, perairan atau udara yang tidak tercemar padahal jika kita semua sadar, peduli dan aktif menjaganya kota kita ini bisa kembalil indah dan subur.

Perhatikan foto nomor 17: itu sampah plastik warna perak bekas dipakai petani untuk menanam melon: dibuang begitu saja dengan gaya yang tidak peduli dan sudah berminggu-minggu berserakan di selokan tidak dibereskan dan dibuang secara bertanggungjawab sesuai UU Persampahan no.18 2008.

Tong sampah di jogging track jarang sekali dikosongkan sehingga meluber, juga tidak ada tong pemilahan dengan kategori jenis sampah yang berbeda.

Saya juga tidak paham kenapa diizinkan ada yang jualan di pinggir jogging track ataupun membangun warung di lokasi peristirahatan. Bukannya malah tambah banyak sampah sekali pakai nanti? Mesti warga ke Desa Budaya Kertalangu untuk menikmati alamnya bukan untuk belanja dan makan atau untuk berbisnis. Biarkan saja jalur hijau ini bebas dari dagang dan bangunan disajikan untuk alam dan juga dinikmati untuk menghirup oksigen dari tananam-tanamannya. Solusi untuk dagang-dagang yang sudah ada pemerintah bisa menyediakan lokasi dekat bypass dengan fasilitas memadai termasuk saluran air, listrik dan pembuangan limbah yang modern dan sesuai BPOM jadi pengunjung hanya bisa belanja dan makan di luar wilayah jogging track.

Sejak Teba Majalangu dibangun di tengah jogging track siapapun yang masuk diminta bayar karcis masuk sebesar Rp2.000,-. Saya ingin tahu fungsi kita bayar itu untuk apa? Yang jelas, tidak pernah jogging track dirawat dengan baik. Ini bukan masalah nominalnya melainkan kegunaannya. Di samping itu sering para pengunjung malas memegang tiketnya dan suka dibuang sembarangan (lihat foto no. 15) jadi malah tiket ini mencemari lingkungan sekitarnya. Di seberang dari bangunan tukang karcis (yang kelihatannya mau roboh) ada banyak sampah dibuang di selokan dan inilah hal yang pertama yang sambut para pengunjung.

Mesti Desa Budaya dijaga ketat oleh sejenis satpam atau disebut "park rangers" di negara lain, satu tim orang yang digaji profesional oleh pemerintah untuk memantau, merawat dan menjaga wilayahnya. Ditambahkan lagi pemasangan CCTV di beberapa titik supaya lebih gampang monitor pada malam hari.

Mohon sekali pemerintah mengedukasi petani dan pemilik tanah dan bisnis / jualan tentang dampaknya membuang sampah sembarangan (ini akan membutuhkan strategi karena saya yakin petani itu pada malas membawa sampah mereka keluar dari jogging tracknya (Apakah mereka punya fasilitas tong pemilahan dan komposter dengan jarak dekat dari lahan? Saya pikir tidak pernah dipikirkan sama sekali). Perlu mengedukasikan mereka tentang bahanyanya bakar sampah atau lahan / jerami: selain bisa memicu penyakit kronis juga menyumbang pada perubahan iklim. Mereka bakar hampir tiap hari namun bukan mereka yang harus hirup hasilnya: mereka tidak tinggal langsung disana, yang kena malah warga di permukiman di seberangan jalan bypass seperti di Banjar Kertalangu dan Banjar Kertapura. Di samping itu membakar lahan bisa menyebabkan kebakaran besar yang tidak terkendali seperti kita melihatan sering terjadi di daerah lain di Bali belakang ini. Hampir semua petani ini menggunakan pupuk kimia dan jika sisa panen itu dibakar pasti mengeluarkan zat-zat kimia dan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan.

Cukup banyak PR ini, jadi mohon dipelajari dengan seksama. Ditunggu strategi konkrit dan actionnya! Matursuksma dan salam peduli lingkungan.



Informasi Pendukung:

Instansi Tujuan : Desa Kesiman Kertalangu Denpasar Timur
Platform : Website
Kategori : Keluhan
Jenis Pengaduan : Lingkungan - Sampah
User : Noname
Dibaca Sebanyak : 6
Informasi Tambahan :

Tindak Lanjut Pengaduan

1
Admin Pro Denpasar 07-09-2026 08:27:52
message user image

Pengaduan kami alihkan ke Desa Kesiman Kertalangu Denpasar Timur

Komentar

0
Tidak terdapat tanggapan!