Kurang Disiplin, Sampah Masih Berserakan

2014-02-12 12:01:51 | 2964 pembaca


Sampah merupakan masalah yang sangat klasik di Kota Denpasar, kurang sadarnya masyarakat akan kebersihan merupakan salah satu faktornya. Selain itu juga banyaknya lahan kosong yang juga kerap kali dijadikan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) oleh oknum-oknum yang kurang bertanggungjawab. Seperti halnya dapat dilihat diseputaran wilayah Desa Pemecutan Kaja, salah satunya di sepanjang jalan Gunung Agung, semakin banyak menjamur Tempat Penampungan Sementara (TPS) liar dengan sampah berserakan diatas trotoar. Selain dipojok-pojok jalan juga terdapat onggokan sampah di depan beberapa toko atau pun supermarket bahkan yang lebih parah lagi di depan gang yang merupakan akses keluar masuk para penghuninya. Berdasarkan pantauan, selain sangat mengganggu onggokan sampah tersebut menjadi pemandangan tersendiri bagi pengguna jalan raya yang acap kali melintas.

Salah seorang warga yang tinggal di jalan Gunung Agung, Jaya Sastrawan mengaku sangat heran akan kesadaran warga yang kurang disiplin dengan sampah apalagi ketika musim penghujan datang. Sampah yang tidak dipungut oleh petugas yang berada dijalan akan terbawa hanyut oleh air hujan yang kemudian jatuh keselokan ataupun got. Dapat dipastikan kalau banyak sampah yang jatuh ke got, akan menimbulkan banjir karena saluran got tersebut tersumbat. Diakuinya, banyak masyarakat yang masih mengabaikan himbauan pemerintah tentang jadwal dan jam pembuangan sampah yang seharusnya ditaati. Sesuai himbauan dari DKP Kota Denpasar sampah dikeluarkan dari rumah mulai pukul 17.00 -19.00 yang selanjutnya akan diangkut oleh petugas DKP. "Akibatnya sampah-sampah masih keliatan menumpuk di atas trotoar, terlebih lagi jika ada pemulung yang datang pasti akan lebih kotor. Karena dia akan mengobok-obok isi dari kantong sampah plastik yang sudah terbungkus, kalau begini siapa yang musti disalahkan," katanya.

Sementara Kades Pemecutan Kaja A.A.Ngurah Arwatha dihubungi via telepon mengatakan untuk mendukung kebersihan Desa Pemecutan Kaja pihaknya telah memiliki armada kebersihan yang meliputi 1 buah moci, 2 buah gerobak pengangkut sampah, depo, serta2 buah carry terbuka. Armada ini siap mengangkut sampah yang dihasilkan masing-masing rumah tangga masyarakat dengan jumlah tenaga angkut 10 orang. Akan tetapi pihaknya baru hanya bisa melayani 6 Banjar saja yang dekat dengan lokasi depo. Desa Pemecutan Kaja terdiri dari 13 banjar dinas dan 14 banjar adat, dengan jumlah penduduk mencapai 30.000 jiwa. Untuk masalah kebersihan, menurut Gung Arwatha pihaknya rutin melaksanakan gotong royong setiap hari Jumat, sedangkan banjar-banjar yang ada diwilayahnya melaksanakan kebersihan setiap hari minggu pagi. Hanya saja ia mengaku untuk saat ini belum bisa memaksimalkan masalah kebersihan, karena terganjal tenaga, armada, dan biaya oprasional yang tinggi mengingat wailayah Desa Pemecutan Kaja sangat luas. "Kami sangat mendukung dan menyambut baik program pemerintah Kota Denpasar dalam hal kebersihan, kami akan berusaha melaksanakan kebersihan dengan melibatkan seluruh komponen serta lapisan masyarakat yang ada di wilayah kami", katanya. Selain itu juga Arwatha menyampaikan khususnya kepada masyarakat yang tinggal diwilayah Desa Pemecutan Kaja agar ikut berpartisipasi dalam menjaga, memelihara kebersihan dilingkungan masing-masing melalui cara tidak membuang sampah pada waktu dan tempat yang semestinya. Dengan kedisiplinan ini kita akan mampu mewujudkan Denpasar Kotaku Rumahku tegasnya.

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait